Pada awal tahun 2019 terminal baru di Bandara Ahmad Yani di Semarang ditargetkan telah beroperasi penuh. Kapasitas terminal lama saat ini hanya mampu menampung 800 ribu penumpang setahun sedangkan trafik penumpang yang melalui Bandara Ahmad Yani tercatat mencapai 4,4 juta orang pada 2017. Dengan adanya terminal baru, ditargetkan dapat menampung hingga 6 juta penumpang pertahun. Dengan desain konsep eco-green airport, maka calon penumpang pesawat udara dapat lebih leluasa dan nyaman berada di terminal baru. Pengembangan terminal baru tersebut untuk meningkatkan layanan kebandarudaraan dengan mengutamakan kenyamanan tanpa mengenyampingkan aspek keselamatan dan keamanan. Pengoperasian terminal baru dan pengembangan bandara senilai Rp 2,075 triliun ini merupakan solusi atas masalah lack of capacity yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Selain itu pengembanga terminal baru ini juga mengantisipasi potensi pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen setiap tahunnya.

Pengembangan dan perluasan Bandara Udara Ahmad Yani Semarang merupakan bagian dari program prioritas pemerintah dalam mendorong konektivitas udara dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pengembangan bandara merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam mengakomodasi tingginya mobilitas penduduk dan kebutuhan akan sarana dan infrastruktur udara yang memadai. BUMN juga terus bersinergi satu sama lain agar proyek-proyek strategis pemerintah bisa diselesaikan tepat waktu dan bisa cepat melayani kebutuhan masyarakat.

Bandara Ahmad Yani Semarang mengusung konsep floating airport (bandara terapung) yang dipadukan dengan konsep eco-green airport sehingga menjadikan bandara ini sebagai bandara terapung pertama di Indonesia. Bandara ini dibangun di atas lahan lunak dan sebagian besar berair dengan menggunakan tiang pancang dan metode prefabricated vertical drain (PVD) untuk memadatkan lahan lunak tersebut. PVD sendiri merupakan sistem drainase buatan yang dipasang di dalam lapisan tanah lunak. Pengembangan Proyek Bandara Ahmad Yani-Semarang secara keseluruhan dibagi dalam empat paket dan melibatkan empat BUMN Karya sebagai kontraktor proyek yaitu PT Hutama Karya-Nindya Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk serta PT Brantas Abipraya (Persero) bersama Jaya Konstruksi.

sumber artikel : beritatrans  dan tribunnews